Phenoxyethanol (INCI: ETHYLENE GLYCOL MONOPHENYL ETHER), yang di Indonesia sering dieja sebagai fenoksietanol, adalah pengawet sintetik berwujud cair yang sangat luas digunakan dalam industri kosmetik dan personal care. Fungsi utamanya adalah melindungi formulasi berbasis air dari kontaminasi mikroorganisme, sehingga memperpanjang umur simpan (shelf life) pada produk seperti krim, losion, sampo, sabun cair, dan serum.
Mekanisme kerja pengawet ini berfokus pada perusakan membran sel bakteri. Phenoxyethanol sangat kuat dan efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri, terutama bakteri Gram-negatif. Namun, kinerjanya cenderung lebih lemah jika digunakan sendirian untuk melawan pertumbuhan jamur dan ragi (yeast and mold).
Bahan ini sangat mudah digunakan dan dapat larut dalam air (hingga batas tertentu) maupun minyak. Dalam pembuatan kosmetik, disarankan untuk memasukkannya pada fase pendinginan (cool-down phase) ketika suhu adonan sudah turun di bawah 60°C. Dosis anjuran dalam formulasi adalah 0,5% hingga 1%. Jangan pernah melebihi konsentrasi 1% karena dapat memicu iritasi kulit.
Karena kemampuannya yang kurang maksimal terhadap jamur, sangat disarankan untuk mengombinasikan bahan ini dengan preservative booster (penguat pengawet) lain agar menjadi perlindungan spektrum luas (broad-spectrum). Kombinasi yang paling populer dan dianjurkan untuk formulator adalah mencampurkannya dengan Ethylhexylglycerin, Caprylyl Glycol, Sodium Benzoate, atau Potassium Sorbate.
Berdasarkan regulasi BPOM dan standar global, Phenoxyethanol diizinkan penggunaannya dalam kosmetik dengan batas maksimal konsentrasi 1%. Bahan ini merupakan alternatif yang sangat populer dan teruji aman untuk klaim produk “paraben-free”. Relatif aman untuk semua jenis kulit dewasa, namun secara regulasi global sering disarankan untuk dihindari pada produk yang diaplikasikan secara khusus di area popok bayi.





Ulasan
Belum ada ulasan.